WACANA BARU FILANTROPI MUHAMMADIYAH

Azaki Khoirudin

Dewasa ini perkembangan ICT (information and communication technology) semakin spektakular. Masyarakat telah menemukan ruang baru, hidup dalam masyarakat jejaring (the network society). Akses internet sudah menjadi kebutuhan hidup segala lapisan masyarakat. Jumlah blogger, faceboker, dan twitter terus meningkat, mereka pergi berpantasi kedunia maya dengan berbagai macam motif dan keperluan; bisnis, mobilisasi massa, menebarkan ideologi politik, chatting, browsing literature, menelusuri lowongan kerja, mencari teman kencan dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi internet berdampak pada pergeseran strategi gerakan pelajar.



Dunia internet, khususnya situs jejaring sosial, memang memungkinkan pelajar bebas berekspresi. Namun, keberhasilan gerakan berbasis jejaring sosial hanya sebatas menghimpun jumlah “KLIK”, tapi gagal melahirkan gerakan perlawanan, baik struktural maupun kultural. Tekanan sosial yang dilakukan masyarakat melalui media baru inilah yang mampu membuat segala tindak tanduk dalam pemerintahan semakin dapat terkontrol. Perubahan datang melalui jutaan klik di layar-layar komputer yang saling terkoneksi. Sehingga IPM memerlukan sebuah model gerakan yang ramping, gesit, dan irit untuk merespon akselerasi perubahan dunia yang begitu cepat.

Gerakan Pelajar Baru
Gerakan Pelajar Baru (New Students Movement) selanjutnya GPB ialah sebuah gerakan yang berpondasi Gerakan Sosial Baru (New Social Movement) dengan konteks menuju peradaban post-modern Secara definisi gerakan pelajar baru memiliki penjelasan konseptual gerakan social baru. Karena pelajar ialah “kelas sosial tertentu yang menuntut ilmu secara terus-menerus serta memiliki hak dan kewajiban dalam bidang pendidikan.” (Anggaran Dasar). GPB, memainkan aksi – aksi sporadis seperti, menarik perhatian media, berdemonstrasi untuk mendukung maupun menentang perubahan kebijakan pemerintah.
Tujuan gerakan pelajar baru adalah untuk menata kembali relasi negara, dengan masyarakat, dan untuk menciptakan ruang publik di dalamnya wacana demokratis ihwal otonomi dan kebebasan individual dan kolektivitas serta identitas. Harapannya dengan pilihan IPM sebagai GPB, IPM mampu menjadikan dirinya sebaga sayap gerakan pelajar yang membidik isu-isu pendidikan dan pelajar. Sehingga, setiap ada permasalahan mengenai pelajar dan pendidikan,  IPM selalu tampil terdepan berbicara sebagai problem solver dan tampil di media untuk membentuk opini ruang public.
Strategi gerakan GPB tidak mengikuti model pengorganisasian model politik partai. GPB lebih memilih gerakan kultural (non-politik), menerapkan taktik mobilisasi opini publik untuk mendapatkan daya tawar politik. GPB menata hubungan antara negara, masyarakat, dan pendidikan untuk memciptakan ruang publik yang didalamnya terdapat wacana demokrasi, kebebasan individu, kolektivitas, dan identitas,
Struktur gerakan GPB mampu mengorganisasikan diri secara cair, mengalir, dan tidak kaku (moderat) untuk menghindari oligarkisasi. GPB mengembangkan format gerakan yang tidak birokratis, dengan pendapat bahwa birokrasi modern telah membawa pada dehumanisasi  GPB ingin menciptakan struktur yang lebih responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan pelajar, yakni struktur yang terbuka, terdesentralisasi, dan non-hirarkis
Pelaku Gerakan GPB berasal dari basis sosial pendidikan, yaitu pelajar. Para aktor GPB berjuang melintasi sekat-sekat sosial demi kemanusiaan. Partisipan GPB berasal dari kelas menengah baru (the new midle class), contohnya akademik (pelajar), seniman, atau umumnya ialah kaum terdidik (ulama’). Para aktor GPB tidak bisa dibedakan dalam kelas sosial, gender, usia, suku, lokalitas. Sehingga nampak menjadi gerakan pelajar yang plural.
Sehingga konsekuensi bagi IPM ialah harus memperamping birokratisasi melalui media, dimana untuk komunikasi lgsg ke grassroot harus lebih cepat dn efektif. IPM harus melawan efek negatif media dengan melawan kemapanan (status quo), yang berbentuk ideology palsu.  IPM harus lebih konsen pada capaian yang terukur, fokus pada titik yang dibidik dan akuntabilitas, yaitu pendidikan.  Media adalah lahan utama IPM yg wajib dioptimalkan manfaatnya. Sebagai contoh revolusi mesir 80%  social networking dan 20% turun kelapangan.

Aktualisasi Peran IPM di Ruang Publik: Media Baru?
Gerakan Pelajar Baru (GPB) dalam melakukan advokasi pelajar mengandalkan pengorganisasian melalui media massa arus utama, kini mereka memanfaatkan internet sebagai media avokasi. Sebagai gerakan pelajar, gerakan dunia maya telah mampu meraih simpati kolektif dari masyarakat pelajar. GPB merupakan akselerasi gerakan dari dunia maya ke dunia riil, hasilnya pun sangat positif kedua permasalahan tersebut tuntas dengan keadilan yang diciptakan oleh masyarakat sipil. Kecenderungan ini memberikan sebuah pola baru dalam proses konsolidasi demokrasi di Indonesia.
Sisi positif yang muncul, bahwa dunia maya menjadi salah satu instrument lahirnya ruang publik yang paling demokratis dewasa ini. Protes-protes, kritikan dan berbagai gerakan politik dan kepentingan muncul diruang dunia maya, sebagai sebuah konstruksi dari dunia riil. Bangunan baru ruang publik melalui media digital telah menjadi fenomena yang cukup menarik dalam perkembangan demokrasi dewasa ini. GPB melalui instrumennya yang tercipta di ruang publik memiliki kekuatan ideologis tertentu, sebagai wujud eksistensi dari kaum oposisi dan juga masyarakat sipil (civil society) dalam melihat realitas politik, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan.
Jejaring-jejaring social tersebut menciptakan stimulus, respon dan tindakan-tindakan kolektif yang dibingkai oleh norma, nilai-nilai dan sangsi sosial. Pentinganya media atau ruang publik dalam penyaluran aspirasi politik merupakan sebuah protes atau kritik sosial akibat tersumbatnya dan tidak berfungsinya fungsi-fungsi politik, yang seharusnya diperankan oleh lembaga-lembaga politik, dari parpol sampai pada lembaga eksekutif, legeslatif dan juga yudikatif. Merupakan landasan dasar dari munculnya perjuangan keadilan dan moral di ruang publik. Kemunculan IPM sebagai Gerakan Pelajar Baru (GPB) di ruang public di dunia maya, merupakan kemajuan baru dalam sejarah pergerakan. Ada banyak pesan moral yang disampaikan oleh aksi-aksi masa dalam ruang publik, inti dari GPB yaitu gugatan terhadap realitas. Ada sebuah kesadaran kritis terhadap berbagai permasalahan ketidakadilan tentang hal-hak pelajar. Kemajuan teknologi informasi, menggeser ruang publik kedalam dunia maya.
Gugatan terhadap realitas yang diwujudkan dalam gerakan dunia maya menjadi awal yang baik untuk perkembangan demokrasi, tetapi tentunya hambatan-hambatan dari kelompok yang merasa dirugikan oleh kebebasan ruang publik virtual akan terus menghadang gerakan dunia maya tersebut. Sehingga dalam prinsip gerakan harus ada afiliasi antara gerakan dunia maya dengan gerakan dalam dunia riil. Terwujudnya sinkronisasi antara dua ruang tersebut akan menghasilkan sebuah gerakan yang masive dan disinilah titik kritis dari akhir perjuangan dalam gerakan dunia maya.
Fenomena media baru dan keterlibatan politik pelajar lewat perkembangan teknologi dapat disebut dengan istilah  “electronic politics”. Model politik ini membuat IPM lebih leluasa untuk mengomentari kebijakan public terkait pelajar. Sekaligus mampu memfasilitasi komunikasi antar pelajar untuk berbagi pendapat tentang suatu permasalahan pendidikan. Bahkan tidak hanya warga, para aktor politik pun dapat menggunakan media baru untuk menyuarakan opininya. Sederhananya, semua bebas dan terbuka untuk berkomentar di wilayah media baru. Inilah era baru berpolitik!

Media dan Rekayasa Realitas: dimana Peran IPM?
Hakikat berita adalah rekonstruksi tertulis atas suatu realitas yang ada dalam masyarakat.  Maka hasil rekonstruksi akan bergantung kepada siapa actor yang melakukan rekosntruksi, yaitu wartawan, redaktur, dan segala kepentingan yang bermain di media masa. Lalu bagaimana dengan ideology atau pandangan dunia (waltanschaung) pelajar? Setiap hari, bahkan setiap menit dan detik, pandangan dunia selalu bertarung dalam media dengan laju kecepatan tinggi yang begitu cepat mempengaruhi alam pikiran pelajar sehingga membentuk sikap dan prilaku sehari-hari. Karena pandangan dunia merupakan bingkai (framing) untuk mengambarkan dunia. Bingkai ialah scenario, sehingga pada hakikatnya yang berkuasa membentuk pandangan dunia pelajar ialah ialah siapa yang mampu membuat scenario. Mampukah IPM memaninkan peran ini, yaitu sebagai pembuat scenario untuk mendesain realitas?
Pekerjaan media pada hakikatnya ialah mengkonstruksi realitas. Isi media adalah hasil para pekerja media yang mengkostruksi pelbagai realitas, misalnya realitas ekonomi, realitas politik, atau realitas pendidikan. Jadi, setiap upaya mengungkap, menampilkan, menceritakan permasalahan apapun, pada hakikatnya adalah usaha media mengkostruksi realitas. Oleh karena itu, media terkadang menawarkan madu kadang pula menawarkan racun. Berkenaan dengan hal ini, media masa terutama televise lazim melakukan pelbagai tindakan konstruksi realitas, dimana hasil ahirnya berpengaruh kuat terhadap pembentukan makna atau citra tentang realitas. Sehingga, besarnya perhatian masyarakat terhadap sebuah isu, sangat tergantung pada seberapa besar media memberikan perhatian pada isu tersebut. Contoh TV adalah menjadi target teoritis favorit teori social kritis.
Bagaimanakah peran IPM? dengan pilihan GPB, di tengah arus peradaban yang melaju dengan kecepatan tinggi yang ditandai dengan perkembangan IPTEK gerakan IPM akan lebih focus membidik isu-isu seputar permasalahan pelajar di ruang public dengan memperjunagkan nilai-nilai luhur yaitu IMTAQ. Dengan pena kritis, IPM harus tajam melihat problem-problem pelajar, dan membongkar ideology (pandangan dunia) palsu yang menyerang pelajar. Kemudian melakukan konstruksi realitas melalui wacana public secara terus menerus sehingga mendominasi ruang public yang pada ahirnya mampu menjadi wacana dominan. Begitupula perjuangan nilai-nilai  ideologis, IPM juga harus menjadi scenario ideology melalui media yang pada ahirnya akan mempengaruhi pandangan dunia bagi pelajar kemudian membektuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Islam, yakni akhlakul karimah.
Sehingga di era postmodernisme (kontemporer), paling tidak ada dua hal yang harus diperbaruhi dalam gerakannya. Pertama, secara folisofis gerakan IPM ialah bagaimana menjadikan pelajar memiliki karakter humanis-spiritual, himanis-reigius, humanis-ilahiyah, atau humanism-teosentris. Kedua, secara motodis gerakan IPM di era kontemporer harus menggunakan metode-metode yang dialogis, parstispatif, eksploratif,dan dekoratif. Dalam istilah al-Qur’an ialah tawasaubil Haq, tawasubis Shabr (saling menasehati kepada Kebenaran Mutlaq, saling menasehati dalam kesabaran) Wallahu A’lam.
LihatTutupKomentar