Kehilangan mu Begitu Pahit Mbah

KehilanganMu Begitu Pahit

Aku akan belajar untuk kehilangan sekalipun. Karena begitu cideranya ketika  kita kehilangan seseorang yang teramat sangat di cintai. Namu terkadang kita lebih siap menghadapi kesenangan, padahal kenyataan yang sebenarnya sangat menyakitkan.

Kaliamat pembuka yang sedikit melow, andilau antara dilema dan galau.
Beberapa hari tidak menuangkan isi yang menjejali otaku. Penuh sudah, tumpahlah hari ini. Semua ini setelah ku temukan lagi separuh dari konsentrasiku, belum full ya.  Baiklah kalimat pembuka yang selalu ku tulis di awal setiap keluh kesah suka dukaku kadang  jaka sembung alias tidak nyambung. Tak mengapalah suka-suka ku. Baiklah tak perlu panjang lebar, kita mulai yukkk:

Beberapa hari belakangan , perasaanku nyaris tidak enak, entah mengapa, aku selalu dibayang-bayangi rasa bersalah, resah dan gelisah. Masalah keluargaku, organisasi dan study. Ah apalah ini. Memang beberapa tahun terakhir ini aku seperti orang asing di dalam keluargaku sendiri, lebih banyak diam dan menyendiri dan bahkan menghindari pertemuan keluarga. Mengapa aku jadi seperti ini, tidak seperti biasanya, hal itu kusadari sangat ku sadari tapi tetap saja aku enggan untuk merubah pola hidupku sekarang. 

Dan perassan yang tak enak, rasa bersalah, kualat de-el-el pun selalu mengahntui, secara bergantian wajah-wajah mereka yang terdaftar dalam keluargaku terlintas dengan nyata, bahkan muncul di mimpi-mimpiku. Seperti kena teror dengan ulahku sendiri. Tak taulah. Terlalu ribet dan panjang jika ku ceritakan secara detail. 

Perasaan tak enaku, menemukan titik terang ketika aku tanpa diajak basa-basi, semua keluarga bertolak ke Jawa, ke tempat mbah(nenekku) satu-satunya berdomisili. Apa gerangan??? 

Beberapa hari sebelumnya aku di kabari bahwa Mbah sedang di rawat di RS Kabupaten Batang. 
Kabarnya Mbah telah tenang di alam sana,Mbah telah pergi untuk selamanya, orang yang teramat ku cintai dan orang yang sangat amat menyayangi dan selalu membelaku telah menghadap Illahi Robbi. 
Tangisku membuncah seketika itu juga. Tapi aku tetap tidak percaya, bagaimana mungkin hal ini terjadi.

Maka selanjutnya aku mengontak semua keluarga yang ada no kontaknya, dan sangat menyedihkan sekali ketika aku sudah tidak menyimpan lagi no keluargaku , Tuhan rasa bersalah berdentum-dentum menyudutkan ku. Dengan berbagai usaha aku berhasil mengontak Buleku di Jawa, ternyata benar Mbah telah meninggal dunia. Tuhan, langit biru bak runtuh menghunjam tubuhku.

Terbayang kembali wajah Mbah yang tirus, raut tuanya yang selalu memancarkan senyum. Mbah selalu tersenyum, iya benar, namun siapa yang tahu beban hidup yang ditanggungnya.

Aku anak sebesar ini, yang selalu tidur dengan Mbah dan selalu betah menginap di rumah mbah ketika beliau masih tinggal berdomisili yang sama di daerahku, tapi 3 tahun yang lalu Mbah di bpypng ke Jawa tinggal bersama anak Bungsunya (omku). Semua itu tak pernah menyurutkan kerinduanku pada Mbah juga Mbah yang kata buleku sangat rindu padaku. Dengan usianya yang sudah udzur mbah selalu giat beribadah, ikut pengajian, melakukan kebaikan, dengan sisa usianya ia ingin mengabdikan dirinya hanya untuk Allah saja. Mbah yang sangat gemar bercerita tentang sejarah juga mengajariku bahasa jepang. Mbah ku itu...

Ya Allah semoga Mbah orang yang sangat aku sayangi Engkau berikan tempat tertinggi di sisiMu ya Rabb.Pertemukanlah kami di SyurgaMu.

Tekadku Mulai saat itu adalah satu ketika aku tidak bisa hadir melihat secara langsung wajah mbah untuk yang terakhir kalinya, maka aku akan bertekad untuk menyusul keluargaku untuk berziarah tempat makam Mbah  dengan tabunganku sendiri.

To Be Continue   SEMUSIM
LihatTutupKomentar